Sunday, September 23, 2007

''Naval Architect''

Tahun Bahari 1996 Menurut Seorang ''Naval Architect'' (I Ketut Aria Pria Utama, Fakultas Teknologi Kelautan ITS Surabaya)

(Suara Pembaruan, 3 September 1996)

Kiranya tepat tahun 1996 dicanangkan sebagai tahun bahari khususnya bila dikaitkan dengan tekad pemerintah untuk mengembangkan kawasan timur Indonesia (KTI) dan penetapan sektor kelautan (GBHN 1993) sebagai salah satu sektor unggulan (leading sector) dalam pembangunan jangka panjang (PJP) II. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari kenyataan geografis, karena Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas wilayah lebih kurang 8 juta km2 (luas daratan 2 juta km2 dan luas perairan 6 juta km2), serta pengalaman historis sebagai bangsa bahari.

Terdapat dua hal menarik yang patut dikaji berkaitan dengan tahun bahari 1996, mengingat penulis adalah seorang insinyur perkapalan (naval architect). Pertama adalah persoalan kecelakaan kapal laut (khususnya yang menimpa kapal-kapal penumpang) dan kedua adalah persoalan impor kapal ikan asing.

Berita tentang kecelakaan kapal laut menghiasi berbagai harian nasional, khususnya pada akhir 1995 dan sepanjang awal tahun 1996. Misalnya, kecelakaan yang terjadi di perairan Selat Bali pada jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, kecelakaan yang menimpa KM Gurita di perairan Aceh dan terakhir kecelakaan yang menimpa KM Agape II di perairan Teluk Tomini.

Bila diteliti dengan saksama, kecelakaan tersebut umumnya disebabkan oleh dua hal. Yaitu, kenyataan bahwa kondisi kapal yang kurang layak laut (unseaworthiness) dan karena faktor alam (cuaca yang sangat buruk). Penyebab kecelakaan KM Gurita, sesuai dengan pengisahan para korban dan berbagai pihak, adalah faktor fisik kapal yang sesungguhnya kurang layak laut, mengingat usia kapal sudah tua, kurang terawat dan kualitas pergerakan kapal di gelombang (seakeeping quality) yang buruk. Selain itu juga karena faktor cuaca yang sangat buruk pada saat kejadian, seperti dipaparkan Mahkamah Pelayaran. Sementara itu musibah yang menimpa KM Agape II lebih disebabkan oleh faktor cuaca buruk.

Musibah yang menelan korban jiwa dalam jumlah yang tidak sedikit itu, kecuali musibah KM Agape II, menyadarkan kita semua betapa penting dan mendesaknya berbagai upaya yang harus dilakukan untuk memperbaiki prosedur keselamatan pelayaran yang berlaku selama ini. Ibaratnya, bila sebuah pesawat terbang meng-alami kecelakaan maka seluruh seri pesawat yang sama harus diselidiki guna memastikan tingkat keamanannya. Demikian pula semestinya bila kecelakaan menimpa sebuah kapal laut.

Kegiatan ini seyogianya melibatkan berbagai pihak, antara lain instansi pemerintah terkait, perusahaan pengoperasi kapal dan juga masyarakat pengguna jasa khususnya dalam rangka perbaikan disiplin penumpang kapal. Penyelidikan penyebab kecelakaan hendaknya melahirkan suatu rekomendasi tentang prosedur pengoperasian kapal penumpang.

Hal itu kemudian ditindaklanjuti dengan penyelidikan terhadap seluruh kapal penumpang yang dioperasikan di Tanah Air untuk memastikan bahwa kapal-kapal tersebut telah memenuhi prosedur keamanan dan keselamatan yang ditetapkan, sehingga layak dioperasikan untuk mengangkut penumpang. Termasuk satu hal yang terpen-ting dan sangat mendesak adalah pemisahan pintu masuk/keluar antara penumpang dan kendaraan untuk menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya, penumpang tidur di dalam kendaraan selama pelayaran sehingga dikhawatirkan akan mempersulit proses penyelamatan bila terjadi musibah laut.

Impor Kapal

No comments: