Sunday, September 23, 2007

Untung Wah dari Jual-Beli Mobil Bekas

Tiga showroom: Cemerlang Mobilindo di Bursa Mobil 3 Kelapa Gading; Cemerlang Jaya Motor di Bursa Mobil Kemayoran dan Cemerlang Jaya Ban di Jl. Cikaret Raya Blok B-F Kompleks Perumahan Nirwana Estate, Cibinong, menjadi saksi keuletan Petrus Edi Widjaja.

TIDAK SENGAJA

Sukses Petrus Edi Wijaya, demikian namanya, muncul dari peristiwa yang tidak disengaja. Suatu waktu, ketika masih konsentrasi pada usaha aksesoris mobil di Depok, pelanggannya datang memperbaiki mobil. Berbagai aksesoris dipesan si pelanggannya untuk melengkapi kendaraan Toyota Coronanya. Banyaknya aksesoris yang dipesan menimbulkan tanya pada Edi. “Mobil ini mau diapain?” tanya dia penasaran. “Saya mau jual lagi,” ujar si pelanggan ringan.

Dari situ pria kelahiran Jakarta, 1 Januari 1967 ini terinspirasi. Mobil itu ditawarnya. Untuk tahu harga yang layak, ia berkonsultasi dengan seorang teman ayahnya yang punya usaha jual-beli mobil bekas. Ia pun mendapat angka Rp 30 juta. “Itu tahun 1994,” katanya ketika dijumpai di showroomnya di Kelapa Gading, Jakarta Barat. Dengan pelanggan tersebut, ia deal Rp 25 juta. Keuntungan Rp 5 juta tanpa susah payah dikantonginya. Ia pun lantas menekuni dengan serius usaha jual-beli mobil bekas yang baginya berprospek cerah. Sejak itu konsentrasi usahanya beralih ke jual-beli mobil bekas.

KERJA CERDAS

Edi menerapkan kerja cerdas yang bersandar pada informasi. Dengan bekal surat kabar dan informasi mulut ke mulut, ia menghimpun data pencari dan penjual mobil. “Kepada yang cari saya telepon seolah-olah mau jual. Misalkan Toyota Corona 1994 mau dijual Rp 33 juta. Lalu saya telepon orang yang mau cari mobil. Saya ajukan harga di atasnya. Atau kalau pencari mobil minta Rp 26 juta, saya bilang ke penjual mobil misalkan harga Rp24 juta,” paparnya.

Sejak itu nama Edi dikenal banyak pihak. Pengalaman di bidang aksesoris dan spare part menguntungkannya untuk menaksir harga beli dan jual mobil. Lebih untung, beli langsung jual atau beli perbaiki lalu jual? “Tergantung, karena kita punya banyak jaringan kita bisa beli dari pedagang atau user. Kalau dari sesama pedagang, ada yang dapat, langsung jual. Ini lebih murah. Ada yang dapat sudah rapih. Karena prospek bagus, saya pajang. Kalau kondisinya enggak bagus, saya masukkan bengkel dulu,” jelasnya.

Edi sendiri lebih memilih beli dan langsung jual. Selain tidak membutuhkan modal yang besar resikonya pun kecil. “Kalau enggak bagus, modal saya enggak bergerak. Cashflow saya bisa macet,” ujarnya.

Pada papan informasi stock di showroomnya di Kelapa Gading tertera 16 unit kendaraan yang disiapkan. Dari Nissan Infiniti 3.0 abu metalik tahun 1997 dengan harga jual Rp 67,5 Juta sampai Toyota Land Cruiser VX 100 biru tua tahun 2000 dengan harga jual Rp 475 juta. Bila keuntungan yang didapat dari setiap transaksi sama dengan pengalaman pertamanya yaitu Rp 5 juta, berarti dengan 16 unit Edi sudah memperoleh Rp 75 juta. Angka ini memang masih perlu dipertanyakan karena tergantung penawaran. Tetapi juga pasti bertambah karena yang ia miliki tiga showroom.

EKSPANSI USAHA

Dunia otomotif ditekuni Edi dari sales spare part mobil pada tahun 1989. Produk tersebut dipasarkannya ke luar Jakarta. Setahun kemudian ia mandiri. Tetapi krisis ekonomi 1990-an memukul usahanya. Ia pun beralih ke usaha aksesoris mobil dari ruko 3 lantai di Margonda Raya 185, Depok, yang sampai sekarang masih dilakukannya.Pada tahun 2002 ia melakukan langkah berani dengan melakukan ekspansi ke Kemayoran, Jakarta Pusat. Empat tahun kemudian menyusul kawasan Kelapa Gading dimasukinya. “Saya sudah sebar informasi dulu ke relasi. Mereka saya support ke lokasi,” ujar aktivis Full Gospel itu.

(Robby Repi)

No comments: